Himpunan Pengusaha Muda Indonesia, atau yang kita kenal dengan HIPMI, resmi berdiri pada tanggal 10 Juni 1972. Namun untuk benar-benar menghargai organisasi ini, kita perlu membayangkan dulu Indonesia di awal era Orde Baru. Saat itu, negara masih membangun ulang sistem ekonominya, dan menjadi pengusaha sama sekali bukan cita-cita yang membanggakan. Justru sebaliknya, profesi wirausaha kerap dipandang sinis, dianggap sekadar "pedagang kecil" atau spekulan yang kurang terhormat. Anak-anak muda, terutama dari kalangan terdidik, lebih memilih jalur menjadi pegawai negeri, ABRI, atau birokrat karena dianggap sebagai simbol status. Di tengah pandangan seperti itulah HIPMI lahir, membawa keberanian untuk melawan arus zaman.

HIPMI digagas oleh sekelompok pengusaha muda yang punya idealisme besar. Para pendirinya antara lain Drs. Abdul Latief, Ir. Siswono Yudo Husodo, Teuku Sjahrul, Datuk Hakim Thantawi, Badar Tando, Irawan Djajaatmadja SH, Hari Sjamsudin Mangaan, Pontjo Sutowo, dan Ir. Mahdi Diah. Menariknya, mereka rata-rata masih tergolong pengusaha pemula saat itu. Tapi justru dari posisi yang belum mapan itulah lahir tekad besar. Mereka sepakat mendirikan HIPMI sebagai wadah belajar sekaligus berjejaring bagi para pengusaha muda, karena sadar betul bahwa untuk membangun perekonomian nasional, Indonesia butuh jauh lebih banyak entrepreneur yang berani ambil risiko.

Sosok yang tampil sebagai motor utama sekaligus Ketua Umum pertama HIPMI adalah Abdul Latief, yang memimpin pada periode 1972-1973. Pria kelahiran Aceh, 27 April 1940, ini bukan pengusaha karbitan. Sejak muda ia sudah berdagang telur dan bawang, lalu merintis toko kecil di Grogol yang kelak berkembang menjadi kerajaan bisnis Pasaraya. Perjalanan kariernya membuktikan visi HIPMI bukan sekadar wacana, ia kemudian dipercaya menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pariwisata, Seni, dan Budaya di era Soeharto. Latief adalah contoh nyata bahwa seorang "pedagang kecil" bisa tumbuh menjadi tokoh besar yang ikut menentukan arah bangsa.

Semangat yang dibawa HIPMI sesungguhnya lebih dari sekadar organisasi bisnis, ia adalah sebuah gerakan. Sejak awal, HIPMI menyuarakan gagasan bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak bisa hanya bersandar pada birokrasi dan kekuasaan, melainkan pada kekuatan pengusaha lokal yang tangguh, mandiri, dan visioner. Di masa Orde Baru, HIPMI mengambil peran sebagai mitra strategis pemerintah dalam pembangunan industri dan infrastruktur, namun tetap menjaga independensinya sebagai kekuatan sipil. Inilah yang membuat HIPMI kerap disebut sebagai "kawah candradimuka", tempat menggembleng kader-kader ekonomi nasional.

Seiring berjalannya waktu, kerja keras itu membuahkan hasil yang manis. HIPMI perlahan berhasil mengubah cara pandang masyarakat terhadap profesi pengusaha, dari yang tadinya dipandang rendah menjadi posisi yang terhormat dan diidamkan. Organisasi ini sukses mencetak banyak kader wirausaha yang kemudian tampil sebagai tokoh penting dalam dunia usaha nasional maupun internasional. Ketika krisis ekonomi menghantam Indonesia pada tahun 1998, HIPMI justru menegaskan relevansinya dengan menempatkan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) sebagai pilar utama dan lokomotif pembangunan ekonomi bangsa.

Kini, setelah lebih dari lima dekade berdiri, HIPMI telah tumbuh menjadi jaringan pengusaha muda yang besar dan tersebar di seluruh penjuru Indonesia, dari Badan Pengurus Pusat di ibu kota hingga Badan Pengurus Cabang di kota-kota daerah, termasuk di Depok. Meski zaman terus berganti, semangatnya tetap sama seperti hari pertama didirikan, terangkum indah dalam motto legendarisnya: "Pengusaha Pejuang, Pejuang Pengusaha." Sebuah pengingat bahwa menjadi pengusaha bukan semata soal mengejar keuntungan, tapi juga soal berjuang membangun bangsa. Warisan semangat inilah yang terus hidup dan diteruskan oleh setiap kader HIPMI hingga hari ini.