DEPOK — Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPC HIPMI) Kota Depok resmi melantik kepengurusan masa bakti 2026–2029 pada Sabtu, 19 September 2026, di The Margo Hotel, Margonda. Ardian Fajar Prastyawan, S.T., MBA., dikukuhkan sebagai Ketua Umum untuk tiga tahun ke depan. Namun hari itu tidak berhenti sebagai seremoni serah terima kepemimpinan. Di panggung yang sama, HIPMI Depok mengumumkan satu langkah yang akan mewarnai seluruh periode kepengurusan: HIPMI Perguruan Tinggi (HIPMI PT) resmi diluncurkan sebagai badan semi otonom BPC HIPMI Kota Depok.

Bagi Ardian, peluncuran itu bukan pelengkap acara. Sejak terpilih, ia menempatkan dua hal sebagai poros kepengurusannya: mendorong UMKM naik kelas, dan menjadikan HIPMI Depok organisasi pembelajar yang inovatif dan kolaboratif. HIPMI PT menjawab keduanya dari hulu. Kalau UMKM naik kelas bicara soal menguatkan yang sudah berjalan, maka HIPMI PT bicara soal memastikan selalu ada yang baru tumbuh — generasi pengusaha berikutnya yang hari ini masih duduk di bangku kuliah. Ardian melihat kampus sebagai ladang yang selama ini belum digarap serius oleh organisasi pengusaha muda, padahal di sanalah gagasan paling banyak lahir dan paling sering berhenti sebelum sempat diuji pasar.

Sebagai badan semi otonom, HIPMI PT membutuhkan sosok yang mampu berdiri di dua dunia sekaligus. Ardian menunjuk Riyantoro Djati untuk memimpinnya. Pilihan itu punya alasan yang jelas: Riyantoro adalah pengusaha muda yang juga berlatar akademisi — ia paham bahasa kampus, dan ia juga tahu rasanya menjalankan usaha dengan risiko yang ditanggung sendiri.

Penunjukan tersebut menempatkan Riyantoro sebagai penanggung jawab penuh atas arah dan program HIPMI PT, dengan keleluasaan bergerak khas badan semi otonom, namun tetap dalam garis kebijakan BPC HIPMI Kota Depok. Ia bergabung dalam jajaran basnom HIPMI Depok bersama HIPMI Peduli, HIPMI Institute, HIPMI Culinary, HIPMI Syariah, HIPMI Womenpreneur, HIPMI Tax Centre, dan sejumlah basnom lain yang masing-masing menggarap bidang spesifik. Di antara semuanya, HIPMI PT memegang satu mandat yang paling berjangka panjang: menyiapkan kader.

Riyantoro menyambut amanah itu dengan menekankan bahwa potensi kampus terlalu besar untuk dibiarkan tidak tersentuh. "HIPMI PT kami dorong sebagai jembatan antara dunia kampus dan dunia usaha. Potensi mahasiswa dan akademisi sangat besar. Melalui kolaborasi dengan pengusaha muda, kami berharap lahir lebih banyak inovasi, usaha, dan program yang memberikan dampak nyata," ujarnya.

Peluncuran HIPMI PT mendapat perhatian nyata dari kalangan pendidikan tinggi. Sejumlah pimpinan dan perwakilan kampus dari Jakarta, Depok, dan sekitarnya hadir langsung di lokasi — sebuah sinyal bahwa gagasan ini disambut, bukan sekadar diumumkan.

Politeknik LP3I Depok diwakili Rini Mardikawanty, S.Kom., M.A., Kepala Kampus LP3I Jakarta Kampus Depok. Universitas BSI Depok hadir melalui Taat Kuspriyono, S.Sn., M.M., Kepala Kampus UBSI Margonda Depok. Institut Teknologi dan Bisnis Swadharma diwakili Drs. Risang Widoyoko, Akt., M.M., Ketua Harian Yayasan. Universitas Nusa Mandiri diwakili Dr. Ida Zuniarti, S.E., M.M., Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Dari Universitas Indraprasta PGRI hadir Dr. Agung Zainal Muttakin R, M.Ds., Kepala Biro Kerja Sama dan Alumni. STT Terpadu Nurul Fikri diwakili Salman El Farisi, S.Kom., M.Kom., Wakil Ketua 1 Bidang Akademik. Universitas Saintek Muhammadiyah diwakili Tarisno Amijoyo, S.Kom., M.Kom., Ketua Bidang Kerjasama dan LSP. STT NIIT i-Tech hadir melalui Subekti Prayogi, S.Kom., M.M., M.Kom., dan Jakarta Global University melalui Onki Alexander, BCM., M.IT., Direktur Humas dan Kerja Sama.

Kesembilan institusi itu kini tercantum sebagai kampus mitra di halaman HIPMI PT hipmidepok.com. Kehadiran mereka menjadi jejaring awal — modal pertama yang akan dikembangkan Riyantoro bersama timnya menjadi kerja sama yang lebih konkret.

HIPMI PT tidak berhenti pada penandatanganan niat baik. Sejumlah program disiapkan untuk mempertemukan mahasiswa langsung dengan pelaku usaha: pengembangan kewirausahaan mahasiswa, mentoring bisnis oleh pengusaha anggota HIPMI, seminar dan pelatihan, business matching, inkubasi usaha, hingga pengembangan startup berbasis kampus.

Benang merahnya satu — memberi mahasiswa pengalaman praktis. Di ruang kelas, bisnis dipelajari sebagai teori: analisis pasar, model bisnis, proyeksi keuangan. Yang jarang didapat adalah pengalaman melihat sebuah ide diuji, ditolak pasar, diperbaiki, lalu akhirnya berjalan. Pengalaman semacam itu hanya bisa datang dari orang yang sudah melewatinya. Di situlah peran anggota HIPMI Depok sebagai mentor menjadi penting, dan di situlah HIPMI PT bekerja sebagai penghubung.

Menurut Riyantoro, sektor perguruan tinggi punya potensi besar sebagai sumber lahirnya inovasi dan pengusaha muda. Ribuan mahasiswa lulus setiap tahun dari kampus-kampus di Depok dan sekitarnya, sebagian besar dengan satu tujuan yang sama: mencari kerja. Padahal, dengan pendampingan yang tepat, sebagian di antara mereka sebenarnya mampu menciptakan lapangan kerja.

"Harapannya, kolaborasi HIPMI PT dengan perguruan tinggi dapat memberikan dampak yang besar bagi perekonomian bangsa, khususnya dari sektor kampus. Kita ingin membangun ekosistem yang mempertemukan pendidikan, inovasi, dan dunia usaha sehingga potensi yang ada di kampus dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi," ujarnya.

Pergeseran cara pandang inilah yang ingin didorong: kampus bukan semata pusat pendidikan, melainkan bagian dari ekosistem ekonomi daerah. Tempat inovasi lahir, usaha baru dirintis, dan talenta kewirausahaan generasi muda ditempa sebelum mereka benar-benar terjun.

Peluncuran HIPMI PT memperluas ruang kolaborasi HIPMI Depok. Jejaring organisasi tidak lagi terbatas pada sesama pelaku usaha, tetapi menjangkau mahasiswa dan akademisi sebagai bagian dari ekosistem kewirausahaan yang sama.

Pelantikan 19 September 2026 menjadi titik mula. Ardian menyerahkan kemudi HIPMI PT kepada Riyantoro Djati, kampus-kampus mitra sudah berdiri di barisan awal, dan program-programnya menunggu untuk dijalankan. Sisanya adalah kerja panjang yang hasilnya mungkin baru benar-benar terlihat beberapa tahun ke depan — saat mahasiswa yang hari ini ikut mentoring sudah berdiri sebagai pengusaha, dan giliran mereka yang menjadi mentor.

Dari kampus, membangun inovasi. Dari inovasi, menciptakan usaha. Dari usaha, menggerakkan ekonomi bangsa.